Jumat, 22 Mei 2009

Pondok Pesantren Al Falah Plus

Dampak psikologis turunnya wahyu

(Menjawab tuduhan bahwa; Nabi saw menderita penyakit epilepsi)

Abdul Basit,S.P.D.I

I. Pendahuluan

Diantara mukjizat yang terbesar bagi Nabi Muhammad saw adalah kitab suci al-Qur’an . Al-Qur’an adalah wahyu yang berasal dari Allah swt disampaikan kepada Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara, kehadiran wahyu al-Qur’an diluar kehendak Nabi Muhammad saw dan kedatangannya secara tiba-tiba[1]. Proses penurunan kitab suci tersebut secara berangsur-angsur, dan Rasulullah saw menerima wahyu dalam situasi dan kondisi yang bermacam-macam, kadang-kadang wahyu turun waktu beliau sendiri seperti pada waktu turunnya wahyu yang pertama, atau pada waktu belia sedang berkumpul dengan sahabat, baik dalam ber-muamalah maupun ibadah .

Proses turunnya wahyu dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw menimbulkan efek psikologis terhadap Rasulullah saw. Dalam proses turun wahyu, kadang Nabi menerima wahyu dengan sangat payah, sehingga beliau berkeringat. Dalam kondisi seperti ini, para orientalis menyebut beliau menderita penyakit.

Macam-macam tuduhan penyakit ditudingkan orientalis kepada Nabi saw, seperti penyakit epilepsi (ayan) , hesteria berat atau gangguan emosi. Tentu saja tuduhan para sarjana Barat tersebut tidak sesuai dengan realita, dan perlu dijawab dengan menjelaskan dan membuktikan bahwa Rasulullah saw benar-benar dalam keadaan sadar dalam menerima al-Qur’an dan Al-Qur’an benar-benar wahyu dari Allah swt, sebagai mukjizat yang tak tertandingi sampai kapan pun.

II. Wahyu

Kata Wahyu adalah menunjukkan dua arti pokok, yaitu yang tersembunyi dan cepat [2]. Menurut kamus Lisanul Araby, asal wahyu yaitu ‘ilam[3] ( pemberitahuan) secara rahasia dan cepat [4]. Dalam bukunya, Justice Mufti Muhammad Taqi Usmani menyebutkan ; wahyu adalah to signify something quickly’[5], sedangkan Richard Bell menerjemahkan kata wahyu berarti “ bisikkan[6], dan yang dimaksud dengan wahyu ialah dalam bentuk isim maf’ul ( muhi) memiliki banyak pengertian [7], seperti ;

a. Ilham, seperti wahyu yang terjadi pada Nabi Musa AS. Allah swt berfirman ;

Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, susukanlah dia” (Q.S al-Qashas 28 :7).

b. Ilham yang merupakan gharizah bagi hewan, seperti perintah tuhan bagi lebah untuk membuat sarang di pohon atau di bukit.

“Dan tuhan kamu mewahyukan kepada lebah; buatlah sarang di bukit-bukit” ( Q.S

an- Nahl 16;68).

c. Isyarat cepat atas jalan yang pendek. Itulah wahyu yang terjadi pada Nabi Zakaria menurut apa yang terjadi dalam al-Qur’an, Allah swt berfirman;

“ Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia member isyarat kepada

mereka, hendaklah kamu bertaubat pada waktu pagi-pagi dan petang” (Q.S Maryam

19:11).

d. Was-was setan atau bisikan setan, dia tanamkan hal itu kedalam diri orang. Allah swt menceritakan itu dalam firman-Nya;

“ Dan demikian kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu sekalian syetan ( dari jenis kamu) dan dari jenis jin, sebagaimana mereka membisikkan kepada orang lain dengan perkataan indah-indah untuk menipu” (Q.S al-An’am 6:112).

e. Sesuatu yang diturunkan Allah kepada Malaikat tentang sesuatu hal agar Malaikat itu memperbuatnya.

“ ( ingatlah) ketika tuhan mewahyukan kepada Malaikat, sesungguhnya Aku bersama

kamu, maka teguhkanlah ( pendirian) orang-orang yang telah beriman” (Q.S al-

Anfal: 8:12).

III. Cara wahyu turun kepada Nabi Muhammad saw

Menurut Siti ‘Aisyah ra yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Haritsah bin Hisham ra ; pernah beliau bertanya kepada Nabi cara wahyu sampai kepada beliau. Nabi Muhammad saw menjawab dengan sabdanya;

“ kadang-kadang Malaikat itu dating kepadaku adalah seperti gemerincing bunyi

lonceng. Hal ini memayahkanku. Lalu bunyi itu terputus terhadap aku, dan aku mengerti

tentang apa yang dikatakannya itu. Dan kadang-kadang Malaikat itu datang

kepadaku adalah seperti bentuk seorang laki-laki. Dia berbicara kepadaku dan

aku mengerti apa yang dibicarakannya” [8].

Khusus kepada Nabi Muhammad saw ada enam cara wahyu sampai kepada beliau [9], yaitu :

1. Seperti bunyi lonceng, Malaikat datang kepada Rasul dalam bentuk yang menakutkan. Dia datang seperti bunyi lonceng yang semakin lama suaranya semakin keras, sehingga Nabi terpaksa membulatkan kekuatannya dan ingatannya untuk menerimanya dan memahaminya serta menghapal wahyu tersebut. Hadist dari Aisyah r.a al-Harist bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullha saw . kata Nabi saw kadang-kadang Malaikat itu datang kepadaku adalah seperti gemerencing bunyi lonceng. Lalu bunyi itu terputus terhadap aku , dan aku mengerti apa yang dikatakannya itu. Kadang-kadang oleh Nabi terdengar bunyi kedua sayap Malaikat sebagaimana yang terdapat dalam hadis. Setelah Allah membereskan urusannya di langit, maka Malaikat itu memukulkan sayapnya, patuh dan tunduk terhadap apa yang dikatakan kepadanya itu seperti bunyi rantai di atas batu besar. Kadang-kadang suara Malaikat tersebut terdengar oleh Rasul. Menurut riwayat ‘Aisyah, apa yang dialami Rasul merupakan hal yang sedemikian payahnya. Kata ‘Aisyah selanjutnya,- aku lihat dia di waktu turun wahyu itu pada suatu hari yang sangat dingin. Setelah wahyu itu berhenti, aku perhatikan mengalir keringat di dahinya.

ولقد رأيته ينزل عليه الوحي فى اليوم الشديد البرد فيفصم عنه وإن جبينه ليتفصد عرقا

(صحيح البخارى ص 2 ج 1 رقم 2 )[10]

2. Malaikat jibril datang berupa seorang laki-laki. Hal ini lebih ringan dari yang pertama, sebab bersesuaian antara yang berbicara dan yang mendengarkan.Rasul merasa senang mendengarkannya wahyu yang disampaikan kepadanya. Hatinya tentram sebagai seorang manusia berhadapan dengan saudaranya sesama manusia. Disini Jibril menampakkan bentuknya seperti manusia biasa, padahal dia adalah makhluk rohani. Bukan berarti zatnya berbalik seperti orang, dia hanya berpidah dari alam rohani kepada alam amnesia terdiri dari jasmani[11].

3. Malaikat turun dalam bentuk aslinya. Malaikat datang kepada Nabi saw dengan bentuk aslinya, yaitu berupa makhluk dengan enam ratus sayapnya yang menutupi langit [12]. Malaikat Jibril datang kepada Nabi saw dalam bentuk asli , hal tersebut terjadi ketika beliau ingin melihat Jibril dalam rupa sebenarnya, atau ketika kejadian Isra’ dan Mi’raj.

4. Melalui mimpi. Sesuatu yang mengawali turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw adalah mimpi atau ar-ru’yah as shadiqah [13], yaitu sebelum turunnya wahyu yang pertama di gua Hira, Nabi bermimpi melihat fajar seperti waktu subuh yang sebelumnya tak pernah bermimpi seperti itu, demikian persiapan bagi Nabi saw sampai datang Malaikat Jibril menyampaikan wahyu dalam keadaan jaga ( tidak tidur) [14], seperti yang diriwayatkan oleh Siti A’isyah ra dalam shahih Bukhari;

أول ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم من الوحي الرؤيا الصادقة فى النوم

فكان لا يرى رؤيا الا جاءت مثل فلق الصبح- ( صحيح البخاري, ص 2 ,ج 1, حديث رقم 3) [15]

5. Berbincang dengan Allah. Seperti yang terjadi pada Nabi Musa as, Nabi Muhammad saw juga mendapat perlakuan istemewa, yaitu berbicara dengan Allah pada malam isra’ dan mi’raj-nya.

6. Memberikan inspirasi atau bisikan kedalam hati.

Dalam riwayat dari Mustadrak Hakim ;

ان جبرئيل عليه السلام القى فى روعى ان احدا منكم لن يخرج من الدنيا حتى يتكمل رزقه [16]

IV. Dampak psikologis terhadap Nabi saw atas turunnya wahyu.

1. Wahyu sebagai penghibur bagi Nabi saw

Wahyu merupakan pemberian Tuhan kepada Nabi Muhammad saw, tentu saja merupakan kehormatan dan keistimewaan bagi Nabi saw menerima wahyu dari Tuhan. Turunnya wahyu diluar kehendak Nabi saw serta kehadirannya secara tiba-tiba [17]. Turunnya dengan cara bermacam-macam dalam masa yang lama.. Ibarat hadiah wahyu merupakan kado yang sangat spesial bagi Nabi Muhammad saw, apalagi diberi oleh kekasih, orang yang dicintai, tuhan semesta alam yaitu Allah swt.

Seseorang yang mendapat bingkisan atau hadiah atau pemberian dari orang yang istemewa pasti akan sangat gembira dan senang, karena dia pasti merasa diperhatikan oleh sang kekasih, oleh sebab itu salah satu hikmah diturunkannya wahyu secara bertahap agar terbaharuinya wahyu dan berulangnya malaikat turun membawanya dari yang Haq kepada Rasulullah saw,dan mengandung kebahagian yang memenuhi hati Rasul saw dan kegirangan yang menyelimuti beliau. Kedua perasaan itu akan muncul kembali lantaran perhatian ilahiyah yang beliau rasakan dalam berbagai peristewa dan kesempatan [18]. Hal itu terjadi atas nabi saw, setelah sepuluh kali menerima wahyu yang dimulai dengan awal surah (1) Iqra’,(2) Al-Qalam, (3) Al-Mudatsir, (4) Al-Muzammil,(5) Al-masad, (6) At-takwir,(7) s-Sabbihisma, (8) ‘Alam Nasyarah,(9) Al-‘Ashr,(10) al-Fajr, tiba-tiba wahyu terputus kehadirannya. Sekian lama beliau menanti dan mengharap , tetapi Jibril- pembawa wahyu- tidak kunjung datang, maka timbul rasa gelisah itu, sampai-sampai ada yang menyatakan bahwa beliau nyaris menjatuhkan diri dari puncak gunung.

Orang-orang musyrik Makkah mengejek beliau dengan berkata, “ Tuhan telah meninggalkan Muhammad dan membencinya”. Kegelisahan itu baru berakhir dengan turunnya wahyu yang kesebelas yang menyatakan,`

“ Demi adh-dhuha, dan malam keteka hening.Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak

pula membencin (mu)” (Q.S Adh-Dhuha 93:1-3).

Cahaya matahari, ketika naik sepenggalahan, memancar menerangi seluruh penjuru, dan pada saat yang sama ia tidak terlalu terik, sehingga tidak mengakibatkan gangguan sedikit pun. Bahkan panasnya dapat memberikan kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan. Di sini Allah swt menggambarkan kehadiran wahyu selama ini sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya demikian jelas, menyegarkan, dan menyenangkan dan ketidakhadiran wahyu ini digambarkan dengan kalimat, “ Demi malam ketika hening telah larut “[19] .

2. Tuduhan Orientalis Bahwa Nabi saw Menderita Penyakit Epilepsi (ayan)

Selain dampak terhadap jiwa berupa rasa senang, gembira serta bahagia dengan turunnya wahyu kepada beliau. Ada dampak lain terhadap Nabi saw atas turunnya wahyu tersebut. Seperti dijelaskan diatas bahwa Nabi Muhammad saw menerima wahyu dengan bermacam cara, dan yang paling berat adalah apabila wahyu turun seperti bunyi lonceng. Hal tersebut membuat Rasul saw tidak sepenuhnya menguasai diri ketika wahyu datang dijelaskan oleh sahabat beliau, Ubadah bin Ash-Shamit , dengan melukiskan jika Rasul saw menerima wahyu maka tampak perubahan pada air muka beliau, tunduk kepala beliau, dan sahabat yang berada di sekitarnya pun menundukkan kepala. Tidak jarang beliau memerintahkan siapa yang melihatnya untuk menutup wajahnya karena ketika itu beliau tidak kuasa menutupnya sendiri. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasul saw ditutupi (wajahnya) dengan kain bila menerima wahyu dan Umar r.a pernah membuka ujung kain penutup itu agar seorang penanya yang menanyakan sesuatu kepada Nabi saw dapat melihat keadaan Rasul saw ketika itu.

Sementara orientalis seperti yang telah digambarkan dalam pendahuluan diatas – yang membaca riwayat ini- menjadikan keadaan tersebut sebagai bukti bahwa beliau mengidap penyakit kejiwaan; umpamanya, Gustav Weil, ia berusaha membuktikan kalau Nabi Muhammad saw menderita penyakit ayan, Aloys sprenger lebih jauh lagi, ia mengusulkan tambahan bahwa Nabi Muhammad saw menderita hesteria, sedangkan Theodore Noldeke, sembari menegaskan realitas ispirasi kenabian Muhammad saw dan menolak bahwa Ia menderita penyakit ayan, memandang Nabi Muhammad saw sebagai penderita gangguan emosi tak terkendali, yang membuat ia yakin bahwa Ia berada dibawah pengaruh Ilahi [20] .

Sebelum menjawab tuduhan para oreintalis tersebut, disini akan diuraikan secara singkat mengenai penyakit epilepsi.

1.2. Mengenal Penyakit Epilepsi

Epilepsi adalah bangkitan berulang secara periodik, berupa gangguan kesadaran, gangguan motorik, sensorik, otonom, fungsi luhur, dan gangguan tingkah laku. Tanda-tandanya bisa berupa kehilangan kesadaran untuk waktu tertentu, kejang-kejang, lidah menjulur, keluar air liur, gemetar, tiba-tiba black out.

Bisa juga muncul dalam bentuk gangguan tingkah laku, gangguan halusinasi, berkeringat, panas tinggi, mata kucing pada mata melebar, atau seolah-olah tertidur. Atau bisa juga muncul hanya dengan mata berkedip-kedip.

2.2. Aneka Jenis Epilepsi

Jenis-jenis epilepsi dapat terlihat dari tanda-tanda saat serangan terjadi. Serangan grand mal (tonik klonik) merupakan jenis epilepsi yang paling sering dijumpai. Tanda-tandanya, kesadaran penderita secara mendadak hilang, disertai kejang tonik (badan dan anggota gerak menjadi kaku), dan kemudian diikuti kejang klonik (badan dan anggota gerak berkejut-kejut, kelojotan).

Saat serangan dimulai, penderita akan jatuh kaku seperti benda mati. Kadang-kadang muncul suara menyerupai jeritan (epileptic cry). "Ini terjadi karena saat dilanda kejang tonik, udara dikeluarkan dengan kuat dari paru-paru melalui pita suara sehingga mengeluarkan bunyi," Saat kejang tonik berlangsung, penderita akan menjadi biru karena pernafasan terhenti dan pembuluh darah balik terbendung. Fase tonik umumnya berlangsung tidak lebih dari 60 detik, kemudian dilanjutkan dengan kejang klonik pada semua anggota gerak tubuh. Napas menjadi tidak teratur, tersendat-sendat, dan dari mulut keluar busa. Fase klonik ini umumnya terjadi kira-kira satu menit. Usai itu, penderita biasanya akan tertidur selama kurang lebih 3 jam.

Berbeda dengan grand mal, pada serangan petit mal kesadaran menghilang mendadak dan singkat. Ia bisa berhenti mendadak dari kegiatan yang sedang dilakukannya (misalnya makan, minum, membaca) lalu terlihat bengong dengan pandangan kosong untuk beberapa saat. Tapi kemudian ia kembali pada kegiatan semula dan melanjutkan kembali kegiatan yang terhenti tadi. Biasanya penderita tidak akan menyadari serangan epilepsi yang terjadi padanya.[21]

3.2. Menjawab Dengan Studi Kasus

Dari penjelasan diatas, dapat kita ketahui bahwa orang yang menderita epilepsi tidak sadar apa yang sedang dan telah dilakukannya, tubuhnya kejang dan lidah berbusa, setelah itu penderita bisa tertidur dan tidak sadar apa yang telah terjadi.

Jadi tanda-tanda dan gejala yang terjadi terhadap orang yang mengalami penyakit ayan, tidak sama dengan apa yang dialami oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam kasus yang dialami oleh Rasulullah saw waktu menerima wahyu, saat itu beliau masih sadar, bahkan beliau bisa berbicara dan memerintahkan sahabatnya untuk menutup muka beliau sendiri, dan mulut beliau tidak mengeluarkan busa, setelah kejadian tersebut, beliau tetap dalam keadaan sadar, dan bahkan beliau menyampaikan wahyu atau perkataan yang sangat indah yaitu firman Allah saw yang baru saja beliau terima dari tuhan.

4.2. Menjawab Dari Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an

Tuduhan oreintalis juga dapat ditolak dengan memperhatikan ayat-ayat yang Nabi saw sampaikan setelah mengalaminya, beratnya menerima wahyu seperti gemuruh atau seperti bunyi lonceng. Ayat-ayat tersebut memiliki ketelitian yang sangat tinggi lagi sarat informasi, yang tidak mungkin disampaikan oleh orang yang sakit [22].

Redaksi sekian banyak ayat al-Qur’an pun dapat dijadikan bukti betapa ayat-ayat tersebut diluar kemampuan beliau. Perhatikan Surah Yunus (10) :22 berikut :

هو الذى يسيركم فى البر والبحر حتى اذا كنتم فى الفلك وجرين بهم بريح طيبة وفرحوا بها جاءتها ريح عاصف وجاءهم الموج من كل مكان وظنوا انهم احيط بهم دعو الله مخلصين له الدين لئن انجيتنا من هذه لنكونن من الشاكرين

“ Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di

lautan . sehingga bila kamu telah berada di atas bahtera dan meluncurlah bahtera itu

membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan

mereka bergembira karenanya, lalu datanglah angin badai. Dan (apabila) gelombang

dari segenap penjuru menimpanya dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung

(bahaya) maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-

Nya semata-mata. ( mereka berkata) “ sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami

dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”.

Ditemukan diatas peralihan dari redaksi persona kedua ke persona ketiga. Yakni ketika membicarakan tentang kekuasaan Tuhan digunakan bentuk persona kedua: “ Tuhan menjadikan ‘kamu’( hai Muhammad dan siapa pun ) mampu berjalan di darat dan di laut”… kemudian tiba-tiba beralih redaksi menuju persona ketiga yakni dengan firman-Nya, dan mereka bergembira karenanya. Seharusnya dikatakan “ dan kamu bergembira dan seterusnya. Dalam ayat ini, “ tulis Malik bin Nabi [23], kita perhatikan pengalihan yang tidak biasa dari kata ganti “ kamu” yeng tentunya bukan akibat kesalahan tata bahasa, karena hal tersebut tak mungkin tergambar bagi sesuatu yang gaya bahasanya dijadikan salah satu bukti kebenaran ajaran Nabi saw. Kalaupun itu suatu kesalahan, maka dalam waktu singkat dapat diperbaiki dengan mudah. Tetapi karena’ perbaikan’ itu tidak dilakukan oleh Nabi saw.,maka ini menunjukkan bahwa redaksi tersebut tidak keliru, sekaligus menunjukkan bahwa beliau sedikitpun tidak kuasa melakukan perubahan sedikit pun menyangkut teks al-Qur’an.

Dari segi psikologis redaksi di atas menunjukkan bahwa pada saat ayat menggunakan kata ‘ kamu ‘ maka Nabi saw termasuk yang diajak berbicara, dan ketika mengunakan kata ganti persona ketiga (mereka) maka ketika itu beliau tidak termasuk di dalamnya. Gambaran peristiwa yang dilukiskan adalah lanjutan dari gambaran peristiwa yang terdahulu. Peralihan mendadak ini mengakibatkan dua situasi kejiwaan yang berbeda yang tidak mungkin, kecuali bahwa yang kedua terjadi akibat yang pertama atau dari dirinya sendiri. Dalam arti, kata ganti ‘kamu’ atau ia lahir melalui suatu penghubung.”

Tetapi seperti yang dikemukakan di atas, gambaran peristiwa yang digambarkan tidak berbeda, yang berbeda hanya pelakunya. Jika demikian, peralihan tersebut tidak menyeluruh – hanya sebagian- dan ketika itu timbul pertanyaan, “ Apakah peralihan semacam itu merupakan hasil dari proses rentetan bisikan bawah sadar Nabi Muhammad saw. Sendiri ?” jawabannya adalah “ tidak”, karena rentetan yang muncul dari bawah sadar tidak sekedar mengubah kedudukan pelaku tetapi juga mengubah apa yang dilakukannya. Karena itu, tentulah redaksi ayat di atas bersumber dari pelaku metafisis yang tidak berhubungan dengan Nabi saw kecuali melalui wahyu [24].

5.2.Menjawab Secara Rasional

Tuduhan yang bersifat merugikan di atas, perhatian ternyata lebih ditumpukan pada hadis-hadis tertentu ketimbang pada al-Qur’an sendiri. Demikian pula, terlalu sedikit perhatian yang diberikan pada kenyataan bahwa Nabi Muhammad saw yang kita kenal dengan baik itu adalah seorang yang sehat jasmani dan rohani ditinjau dari berbagai segi. Adalah tidak masuk akal jika seorang yang menderita penyakit ayan atau hesteria, atau bahkan gangguan emosi yang tak terkendali, dapat menjadi pemimpin aktif ekspedisi-ekspedisi militer, atau pemandu yang berpandangan luas dan tenang dari suatu Negara-kota atau suatu masyarkat keagamaan yang sedang tumbuh- berkembang. Seluruh kegiatan inilah yang kita ketahui telah dijalankan Muhammad saw.

Dalam masalah-masalah semacam ini , prinsip yang seharusnya dipegang oleh sejarawan adalah al-Qur’an dan hanya menerima hadis sepanjang selaras dengan hasil kajian terhadap al-Qur’an. Walaupun demikian, al-Qur’an –meski mencatat rentetan peristiwa tanpa memutarbalikkan ejekan-ejekan dan celaan-celaan musuh-musuh Muhammad- tidak menyebut suatu pun yang akan mendukung keyakinan mengenai beberapa penyakit yang diderita Muhammad. Penentang-penentang Muhammad memang mengatakan bahwa ia Majnun , tetapi hal ini hanya berarti bahwa mereka memandang tingkah lakunya sinting atau mereka menganggap ucapan-ucapannya diilhami oleh jin, sebagaiamana tanggapan mereka terhadap tukang tenung. Apabila mereka dapat menunjukkan suatu bukti tentang tanda-tanda penyakitnya, maka hampir dapat dipastikan bahwa hal ini akan terdengar oleh kita. Disamping argument yang diambil dari analisis kandungan ayat al-Qur’an di atas, ada juga orientalis yang secara jujur seperti Tor Andrae, ia menelaah bahwa pengalaman Nabi saw dari sudut psikologi dan menemukan bahwa pengalaman kenabian tersebut benar-benar sejati, dan beliau memiliki pesan kenabian bagi masa dan generasinya [25].

V. Penutup

Datangnya wahyu yang pernah disaksikan oleh beberapa kaum Muslimin selama masa hidup Muhammadsaw, demikian juga Qur'an setiap dibacakan kepada mereka, ternyata menambah keteguhan iman mereka. Di antara mereka itu terdapat juga orang Yahudi dan Nasrani. Sesudah lama terjadi debat dan diskusi dengan Nabi, kemudian mereka pun mempercayai. Sekitar risalah dan masalah waktu itu tak ada yang mereka tolak. Memang ada segolongan orang-orang Quraisy yang berusaha menuduh hal itu sebagai perbuatan sihir dan gila. Tetapi kemudian merekapun mengakui, bahwa dia bukan tukang sihir dan bukan pula orang gila. Merekapun lalu jadi pengikutnya dan beriman atas ajakan itu. Inilah yang sudah pasti dan meyakinkan. Jadi sekarang yang tak dapat diterima oleh ilmu, dan bertentangan dengan kaidah-kaidah yang ilmiah ialah sikap mengingkari terjadinya wahyu itu dan merendahkan orang yang menerimanya disertai kecaman dengan pelbagai rupa. Inilah yang justru bertentangan dengan ilmu. Seorang sarjana yang sungguh-sungguh bertujuan mencari kebenaran, tidak dapat berkata lain daripada suatu penegasan bahwa apa yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan sampai sekarang, masih terbatas sekali, belum dapat menguraikan wahyu itu dengan cara ilmiah. Akan tetapi, begaimanapun juga, ilmu tak dapat menolak terjadinya gejala-gejala wahyu, seperti yang dilukiskan oleh sahabat-sahabat Nabi dan penulis-penulis lain pada permulaan sejarah Islam itu. Kalaupun ada yang mengingkarinya, ia berusaha mencari dalih dengan menggunakan ilmu sebagai senjata yang sia-sia dengan sikap keras kepala. Sikap keras kepala dengan ilmu sebenarnya takkan pernah bertemu.

Daftar Pustaka

1. Al-Hakim , Al-Mustadrak, Kitabul Buyu’, Dairu al-Ma’a-rif Daccan.134, v2,p4

  1. Haikal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad, terj.Ali Audah, Pustaka Jaya, Jakarta,1980.

3. Imam, Bukhari, Jami’u al-Shahih, Dar al-Fikr, Beirut .

  1. Munawir, Fajrul , al-Qur’an, Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2005.

5. Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum an- Nash Dirasah Fi ‘Ulumil al-Qur’an, Markaz ats-Tsaqafi al-Araby 2004.

6. Quthan, Mana’ul , Pembahasan Ilmu al-Qur’an I , penerjemah Halimuddin, Rineka Cipta , Jakarta 1987.

  1. Shihab, M.Quraish , Mukjizat Al-Qur’an, Penerbit Mizan, Bandung 1998.

8. Usman, Muhammad Taqi , An Approach to the Qur’anic Sciences, terjamahan : Dr.M.S Siddiqui (Adam Publisher & Distributor New Delhi-India 2007)

9. Watt, W.Montgomery , Pengantar Studi al-Qur’an, terjmahan, Taufik Adnan Amal karya Richard Bell C.V Rajawali Pers, Jakarta 1991.

.



[1] M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an, ( Penerbit Mizan, Bandung 1998) C. IV h, 74

[2] Mana’ul Quthan,, Pembahasan Ilmu al-Qur’an I , penerjemah Halimuddin (Rineka Cipta , Jakarta

1987 ) h. 25

[3]Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab ( Dar-Al Ma’arif), h.4787

[4] Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum an- Nash Dirasah Fi ‘Ulumil al-Qur’an (Markaz ats-Tsaqafi al-Araby Magriby 2004) C. 5, h.31

[5] Muhammad Taqi Usman, An Approach to the Qur’anic Sciences, terjamahan : Dr.M.S Siddiqui (Adam

Publisher & Distributor New Delhi-India 2007) h.33

[6] W.Montgomery Watt, Op.Cit , h.30

[7] Mana’ul Quthan,, Pembahasan Ilmu al-Qur’an I, Op.Cit, h. 26

[8] Shahih Bukhari .h. 2 juz 1

[9] Muhammad Taqi Usman, An Approach to the Qur’anic Sciences, Op.Cit, h.39-45

[10] Shahih Bukhari, v1, p 2 hadist no,2.

[11] Mana’ul Quthan,, Pembahasan Ilmu al-Qur’an I, Op.Cit, h.35

[12] Shahih Bukhari 3232, 4856, 4857 dan Muslim 174

[13] Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum an- Nash Dirasah Fi ‘Ulumil al-Qur’an, Op.Cit, h. 50

[14] Mana’ul Quthan,, Pembahasan Ilmu al-Qur’an I, Op.Cit, h. 32

[15] Sahih Bukhari v 1, p 2, Hadis no.3

[16] Al-Hakim , Al-Mustadrak, Kitabul Buyu’, v2,p4, (Dairu-tul-Ma’a-rif Daccan.1340)

[17] M.Quraish Shihab, Op.Cit, h .74

[18] Fajrul Munawir, Op .Cit, h. 46

[19] M.Quraisy Syihab, Op.Cit. h 75

[20] W.Montgomery Watt, Pengantar Studi al-Qur’an, terjmahan, Taufik Adnan Amal karya Richard Bell ( C.V Rajawali Pers, Jakarta 1991) C.1 h.26

[21] Mahar Marjdono, Beberapa factor yang melatarbelakangi penyakit epilepsy, www.Portalkable

[22] M.Quraish Shihab, Loc.Cit.h.75

[23] Malik bin Nabi, Azh-Zhahirah al-Qur’aniyah, hlm, 164

[24] M.Quraish Shihab, Op.Cit, h. 85

[25] W.Montgomery Watt, Op.Cit , h.27